Minggu, 21 Agustus 2016

KOPI, TEH DAN JAM TANGAN




KOPI, TEH DAN JAM TANGAN
By: Singgih Dwipantoro

"Saya ulangi lagi ya, lemon tea satu sama kopi hitam satu" kata pelayan kafe itu.
"Iya" Jawab Anto.
"Ada lagi yang ingin di pesan?" pelayan itu menanyakan jika ada menu lain yang ingin dipesan Anto
"itu saja dulu, mas" kata Anto sambil mengembalikan buku menunya.

kaos putih, kemeja biru dongker dan celana jeans bukan padanan yang spesial memang untuk hari yang penting ini, tapi Anto yakin itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan, "kita sudah menjalani banyak hal bersama, susah dan senang bersama, dan kamu tidak pernah mempermasalahkan style fashionku yang apa adanya." Mata Anto terlihat merah dan berkantung, memang dia kurang tidur pagi ini dia baru pulang dari Jakarta mengantarkan murid-muridnya mengikuti lomba murid teladan menggantikan Pak Samsul guru senior di sekolah tempat Anto mengajar yang  mendadak berhalangan karena harus menemani istrinya melahirkan. Anto hanya sempat mampir sebentar ke kos tadi sekedar untuk mandi dan mengganti bajunya sebelum berangkat lagi ke kafe itu. Satu minggu ini Anto banyak disibukkan dengan kegiatan di sekolah mempersiapkan murid-muridnya untuk mengikuti lomba murid teladan tingkat nasional di Jakarta, dia bahkan tidak sempat membawa jam tangannya yang rusak 4 hari yang lalu ke tukang service.

Namanya Ratna, gadis sanguinis penyuka teh. Anto mengenalnya sejak masa kuliah. Dari sekedar teman saat kerja kelompok, akhirnya mereka jadian. Tidak ada yang spesial sebenarnya dari diri Ratna. Dia hanya gadis biasa seperti pada umumnya, Namun entah kenapa berada di dekatnya dan mendengarkan ceritanya yang seringkali tidak penting bisa membuat Anto merasa nyaman. Pembawaan Ratna yang ceria dan easy going, membuat tidak banyak drama yang terjadi dalam hubungan mereka.

Lepas dari kuliah Ratna bekerja sebagai karyawan di sebuah Bank Swasta di kota Surabaya, sedangkan Anto yang lulusan Sastra Inggris dia bekerja menjadi seorang guru honorer di sebuah sekolah swasta di kota yang sama. Dari sisi pendapatan jelas gaji sebagai bank lebih tinggi daripada gaji seorang guru honorer, tapi Ratna tidak pernah mempermasalahkan hal itu. dia menerima Anto apa adanya, tanpa menuntut hal yang macam-macam.

Sudah lewat dari 10 menit dari waktu yang dijanjikan, sebenarnya itu masih waktu yang wajar bagi seseorang untuk menoleransi keterlambatan, tapi peristiwa 7 hari yang lalu, mau tidak mau membuat perasaan Anto menjadi cemas. Relativitas waktu seakan memuai membuat setiap detik terasa sangat lama.
Satu minggu sebelumnya tepatnya tanggal 18 April 1992 hari Sabtu Ratna mendatangi tempat kos Anto. Wajahnya terlihat berbeda dari biasanya, tidak terlihat ekspresi ceria yang selalu dia perlihatkan selama ini. "Tok, Antok" Panggil Ratna dari depan kamar kos Antok "Ya Bentar" sahut Anto dari dalam. "Weits, tumben nih tuan putri sudi mampir ke gubuk hamba sahaya macam saya. hehe... ada apa nih?" kata Anto setelah membuka pintu kamarnya. Anto berdiri di depan kamarnya menyambut Ratna dengan baju kebesarannya "kaos singlet."
"Aku mau ngomong sesuatu Tok." kata Ratna
"Ya ngomong aja" Sahut Anto menimpali
"Gak bisa disini, ini penting" Jawab Ratna
"Banget?" Anto bertanya pada Ratna
"Iya" Kata Ratna sambil menganggukkan kepalanya
"Ok, Bentar ya aku mandi dulu" Anto lalu beranjak keluar menuju kamar mandi yang terletak di ujung lorong tempat kosnya.

Sementara Anto mandi Ratna duduk di kursi di depan kamar kosnya. Dari situ dia bisa melihat ke dalam kamar kos Anto yang ditinggal dan dibiarkan terbuka oleh penghuninya. tidak banyak perabotan yang ada di dalamnya, hanya sebuah meja kecil, lemari, dan kasur kumal yang ada di lantai. dindingnya dibiarkan kosong, bahkan sekedar kalendar yang biasa tertempel di dinding pun tidak dia temukan.

"Bentar ya, ganti baju dulu" kata Anto mengejutkan Ratna yang duduk memandangi kamar Anto.
"Oh! Iya" sahut Ratna pendek
Anto lalu masuk kamar dan menutup pintu kamar sebentar untuk berganti baju. tak butuh waktu lama bagi Anto untuk membersihkan tubuhnya, dan memang hari itu dia tidak ingin mandi berlama-lama. Sikap Ratna yang tidak biasa hari itu membuat Anto bertanya-tanya kira-kira pembicaraan penting apa yang ingin diceritakan Ratna padanya.

"Sekarang?" tanya Anto
"Ya!" Jawab Ratna.
 Sebuah kemeja garis-garis warna biru gelap dan celana kain hitam serta jam tangan butut peninggalan ayahnya menjadi pilihan Anto hari itu. Mereka lalu berjalan menuju ke parkiran sepeda motor di lantai satu. Ratna menunggu di luar kos, sementara Anto mengeluarkan sepeda motor Honda Astrea Prima miliknya. Tak ada satu pun kata yang terucap dari mulut Ratna selama dia di bonceng Anto, menuju kafe tempat mereka biasa bertemu.

Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Anto selama dalam perjalanan itu. Memang selama mereka berpacaran 6 tahun ini, Anto merasakan bahwa ada banyak perbedaan yang mencolok antara dirinya dengan Ratna. Dari hal yang sederhana, seperti Anto yang lebih suka minum kopi dan Ratna yang penggemar teh, sampai fakta bahwa Ratna jauh lebih aktif, ceria, supel dan pandai beradaptasi
dalam pergaulan ketimbang Anto. Sedangkan Anto cenderung merupakan pribadi yang keras kepala, sulit menerima perubahan, dan lebih suka hal-hal yang simple dan sederhana.Mereka pernah membahas hal ini, dan bersepakat bahwa hubungan yang mereka jalani saat ini ibaratnya sepasang potongan puzzle yang saling melengkapi satu sama lain, setelah itu mereka tidak pernah membahas hal itu lagi dan menjalani hari-hari dengan berusaha saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Waktu berjalan dan tanpa terasa mereka sudah tiba di kafe tempat tujuan mereka. Anto segera memarkir sepeda motornya, sementara Ratna masuk terlebih dahulu memesan minuman. secangkir kopi hitam dan lemon tea sudah tersaji di meja ketika Anto masuk ke dalam kafe tersebut. Jarum jam menunjukkan angka 10 pagi ketika mereka mulai masuk ke kafe dan duduk berhadapan, samar-samar Anto bisa merasakan ada sebuah kegundahan yang sangat dalam terpancar dari kedua bola mata Ratna.

"Jadi ada hal penting apa nih yang mau dibicarakan?" Tanya Anto memulai percakapan
"Tiga hari yang lalu aku barusan pulang dari rumah Tok, aku diminta pulang sama ibuku"
"Trus?" Tanya Anto
"Ibuku bilang dia mau menjodohkan aku dengan anak temennya Rudi seorang Dokter lulusan UI, kemarin aku bertemu anaknya dan dia sudah berniat buat melamarku Tok"

"Blaarrrr" Hari itu masih musim kemarau tapi petir seakan-akan menyambar dengan kuat ketika Anto mendengar kalimat itu.
"Kamu..., Kamu ini lagi bercandakan Rat? Kamu gak cerita tentang hubungan kita dengan ibumu?"
"Udah!... Udah! Tok, justru karena itu aku pengin ngomongin ini sama kamu Tok. Ibu minta kamu buat datang ke rumah Tok, kalau kamu serius sama aku"
"Tapi, tapi itu gak mungkin Rat, kamu tahu sendiri gajiku sendiri masih seberapa, aku masih harus nabung Rat"
"Ibuku gak mempermasalahkan itu Tok."
"Tapi..." kata-kata Anto terpotong
" Sabtu malam minggu depan kedua orang tuaku mau datang ke Surabaya bersama mas Rudi untuk menanyakan jawabanku atas lamarannya"
"Begitu ya, ya aku paham kok" kata Anto sambil menghela nafas
"Tapi, aku belum bisa memberi kepastian sekarang Rat, Sabtu pagi ya, sekitar jam segini? minggu depan kita ketemu lagi di sini ya?" Tanya Anto pada Ratna
"Hmm" Ratna mengangguk pelan

Jam di dinding kafe menunjukkan pukul 11.15 sudah satu jam lebih berlalu dari waktu yang dijanjikan tapi Ratna belum juga muncul, jari tangan Anto merogoh saku celananya mencoba meraba kotak cincin yang dibelinya kemarin di Jakarta dengan seluruh uang tabungannya. Sebuah pikiran buruk kini menghantuinya, ketika Ratna tidak kunjung datang ke kafe itu, mungkinkah dia ingkar janji, dan lebih memilih laki-laki itu. Selama ini Ratna memang tidak pernah mempermasalahkan pekerjaannya sebagai guru honorer dengan gaji yang tidak seberapa itu, dan itu membuat Anto tenang, tapi jujur saja saat Anto sendiri merasa minder ketika dia harus dibandingkan dengan seorang Dokter lulusan UI.

Lamunan Anto tiba-tiba buyar ketika mendadak semua orang di dalam kafe tiba-tiba keluar kafe dengan tergesa-gesa. Anto pun berdiri mengikuti kemana orang-orang itu pergi.
"Ada apa pak?" tanya Anto kepada seorang pengunjung kafe yang juga ikut keluar
"Ada kecelakaan mas di depan kafe" jawab pengunjung itu
Anto pun bergegas ikut mendatangi lokasi kejadian

"Iya, ketabrak truk tadi, rem blong kayaknya truknya"
samar-samar Anto mendengar percakapan dari saksi mata yang melihat kejadian langsung
"Iya dia tadi mau nyebrang jalan, tahu-tahu ada truk nyelonong aja. Kasihan pak yang jadi  korbannya wanita muda, cantik lagi" saksi mata itu melanjutkan keterangannya kepada polisi yang menanyainya

Perasaan Anto seketika berubah kacau mendengar keterangan dari saksi mata tadi. "Jangan-jangan" pikiran buruk kini menyeruak di kepala Anto, lebih buruk daripada sebelumnya. Anto segera bergegas menembus kerumunan orang yang ingin melihat dari tempat kejadian perkara. "Semoga bukan, semoga bukan, semoga bukan" kata Anto dalam hati berdoa semoga bukan Ratna yang menjadi korban itu.

Sebuah kelegaan muncul ketika Anto berhasil menembus kerumunan dan doa Anto terkabul. Wanita yang terkapar tak bernyawa di jalan itu memang bukan Ratna, namun kelegaan itu hanya sementara. Sedetik kemudian mata Anto menatap sesosok perempuan yang dikenalinya berdiri diantara kerumunan orang itu.
"Rat..." suara Anto tercekat di tenggorokan ketika dia menyadari tangan Ratna menggenggam erat tangan seorang laki-laki tampan yang berpakaian necis di sebelahnya. Sesaat kemudian mata mereka beradu, Ratna tampak terkejut ketika dia melihat Anto disana. cukup lama bertatapan satu sama lain, sebelum kemudian Ratna mengangguk dan tersenyum kepada Anto lalu berpaling dan mengajak laki-laki berpakaian necis itu pergi meninggalkan Anto tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Langkah Anto terlihat gontai ketika dia berjalan masuk kembali ke kafe. Tidak pernah terbayang sedikit pun dalam benak bahwa dia akan melihat Ratna menggenggam tangan laki-laki lain selain dirinya. Tidak pernah terbayang juga di diri Anto bahwa Ratna bisa melakukan perbuatan ini padanya. Wajahnya kini kosong menatap kopi hitam yang tersisa setengah di depannya. sesaat kemudian Anto lalu melambaikan tangannya kepada pelayan kafe.
"Ya, mas, mau pesen apalagi?" Tanya pelayan kafe itu
"Oh! Nggak, mas. Mau minta billnya" Jawab Anto sambil berusaha untuk tersenyum
"Ouwh! Temennya gak jadi datang mas?"
"Iya mas" jawab Anto singkat
"Hmm..." Pelayan itu bergumam pelan
"Emang kenapa mas?" Tanya Anto
"Oh! Gak pa pa mas, cuma kayak De Javu aja. Kemarin seinget saya juga ada pelanggan yang pesen minuman yang persis sama kayak ini, katanya dia juga lagi nungguin seseorang, cuma orang yang ditunggu sampai sore gak muncul-muncul. Kasihan mas, apalagi yang nunggu cewek"
"Kemarin?" Tanya Anto keheranan.
"Emang sekarang hari apa mas?"
"Sekarang hari Minggu mas, 26 April 1992"

- The End -

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

KOPI, TEH DAN JAM TANGAN




KOPI, TEH DAN JAM TANGAN
By: Singgih Dwipantoro

"Saya ulangi lagi ya, lemon tea satu sama kopi hitam satu" kata pelayan kafe itu.
"Iya" Jawab Anto.
"Ada lagi yang ingin di pesan?" pelayan itu menanyakan jika ada menu lain yang ingin dipesan Anto
"itu saja dulu, mas" kata Anto sambil mengembalikan buku menunya.

kaos putih, kemeja biru dongker dan celana jeans bukan padanan yang spesial memang untuk hari yang penting ini, tapi Anto yakin itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan, "kita sudah menjalani banyak hal bersama, susah dan senang bersama, dan kamu tidak pernah mempermasalahkan style fashionku yang apa adanya." Mata Anto terlihat merah dan berkantung, memang dia kurang tidur pagi ini dia baru pulang dari Jakarta mengantarkan murid-muridnya mengikuti lomba murid teladan menggantikan Pak Samsul guru senior di sekolah tempat Anto mengajar yang  mendadak berhalangan karena harus menemani istrinya melahirkan. Anto hanya sempat mampir sebentar ke kos tadi sekedar untuk mandi dan mengganti bajunya sebelum berangkat lagi ke kafe itu. Satu minggu ini Anto banyak disibukkan dengan kegiatan di sekolah mempersiapkan murid-muridnya untuk mengikuti lomba murid teladan tingkat nasional di Jakarta, dia bahkan tidak sempat membawa jam tangannya yang rusak 4 hari yang lalu ke tukang service.

Namanya Ratna, gadis sanguinis penyuka teh. Anto mengenalnya sejak masa kuliah. Dari sekedar teman saat kerja kelompok, akhirnya mereka jadian. Tidak ada yang spesial sebenarnya dari diri Ratna. Dia hanya gadis biasa seperti pada umumnya, Namun entah kenapa berada di dekatnya dan mendengarkan ceritanya yang seringkali tidak penting bisa membuat Anto merasa nyaman. Pembawaan Ratna yang ceria dan easy going, membuat tidak banyak drama yang terjadi dalam hubungan mereka.

Lepas dari kuliah Ratna bekerja sebagai karyawan di sebuah Bank Swasta di kota Surabaya, sedangkan Anto yang lulusan Sastra Inggris dia bekerja menjadi seorang guru honorer di sebuah sekolah swasta di kota yang sama. Dari sisi pendapatan jelas gaji sebagai bank lebih tinggi daripada gaji seorang guru honorer, tapi Ratna tidak pernah mempermasalahkan hal itu. dia menerima Anto apa adanya, tanpa menuntut hal yang macam-macam.

Sudah lewat dari 10 menit dari waktu yang dijanjikan, sebenarnya itu masih waktu yang wajar bagi seseorang untuk menoleransi keterlambatan, tapi peristiwa 7 hari yang lalu, mau tidak mau membuat perasaan Anto menjadi cemas. Relativitas waktu seakan memuai membuat setiap detik terasa sangat lama.
Satu minggu sebelumnya tepatnya tanggal 18 April 1992 hari Sabtu Ratna mendatangi tempat kos Anto. Wajahnya terlihat berbeda dari biasanya, tidak terlihat ekspresi ceria yang selalu dia perlihatkan selama ini. "Tok, Antok" Panggil Ratna dari depan kamar kos Antok "Ya Bentar" sahut Anto dari dalam. "Weits, tumben nih tuan putri sudi mampir ke gubuk hamba sahaya macam saya. hehe... ada apa nih?" kata Anto setelah membuka pintu kamarnya. Anto berdiri di depan kamarnya menyambut Ratna dengan baju kebesarannya "kaos singlet."
"Aku mau ngomong sesuatu Tok." kata Ratna
"Ya ngomong aja" Sahut Anto menimpali
"Gak bisa disini, ini penting" Jawab Ratna
"Banget?" Anto bertanya pada Ratna
"Iya" Kata Ratna sambil menganggukkan kepalanya
"Ok, Bentar ya aku mandi dulu" Anto lalu beranjak keluar menuju kamar mandi yang terletak di ujung lorong tempat kosnya.

Sementara Anto mandi Ratna duduk di kursi di depan kamar kosnya. Dari situ dia bisa melihat ke dalam kamar kos Anto yang ditinggal dan dibiarkan terbuka oleh penghuninya. tidak banyak perabotan yang ada di dalamnya, hanya sebuah meja kecil, lemari, dan kasur kumal yang ada di lantai. dindingnya dibiarkan kosong, bahkan sekedar kalendar yang biasa tertempel di dinding pun tidak dia temukan.

"Bentar ya, ganti baju dulu" kata Anto mengejutkan Ratna yang duduk memandangi kamar Anto.
"Oh! Iya" sahut Ratna pendek
Anto lalu masuk kamar dan menutup pintu kamar sebentar untuk berganti baju. tak butuh waktu lama bagi Anto untuk membersihkan tubuhnya, dan memang hari itu dia tidak ingin mandi berlama-lama. Sikap Ratna yang tidak biasa hari itu membuat Anto bertanya-tanya kira-kira pembicaraan penting apa yang ingin diceritakan Ratna padanya.

"Sekarang?" tanya Anto
"Ya!" Jawab Ratna.
 Sebuah kemeja garis-garis warna biru gelap dan celana kain hitam serta jam tangan butut peninggalan ayahnya menjadi pilihan Anto hari itu. Mereka lalu berjalan menuju ke parkiran sepeda motor di lantai satu. Ratna menunggu di luar kos, sementara Anto mengeluarkan sepeda motor Honda Astrea Prima miliknya. Tak ada satu pun kata yang terucap dari mulut Ratna selama dia di bonceng Anto, menuju kafe tempat mereka biasa bertemu.

Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Anto selama dalam perjalanan itu. Memang selama mereka berpacaran 6 tahun ini, Anto merasakan bahwa ada banyak perbedaan yang mencolok antara dirinya dengan Ratna. Dari hal yang sederhana, seperti Anto yang lebih suka minum kopi dan Ratna yang penggemar teh, sampai fakta bahwa Ratna jauh lebih aktif, ceria, supel dan pandai beradaptasi
dalam pergaulan ketimbang Anto. Sedangkan Anto cenderung merupakan pribadi yang keras kepala, sulit menerima perubahan, dan lebih suka hal-hal yang simple dan sederhana.Mereka pernah membahas hal ini, dan bersepakat bahwa hubungan yang mereka jalani saat ini ibaratnya sepasang potongan puzzle yang saling melengkapi satu sama lain, setelah itu mereka tidak pernah membahas hal itu lagi dan menjalani hari-hari dengan berusaha saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Waktu berjalan dan tanpa terasa mereka sudah tiba di kafe tempat tujuan mereka. Anto segera memarkir sepeda motornya, sementara Ratna masuk terlebih dahulu memesan minuman. secangkir kopi hitam dan lemon tea sudah tersaji di meja ketika Anto masuk ke dalam kafe tersebut. Jarum jam menunjukkan angka 10 pagi ketika mereka mulai masuk ke kafe dan duduk berhadapan, samar-samar Anto bisa merasakan ada sebuah kegundahan yang sangat dalam terpancar dari kedua bola mata Ratna.

"Jadi ada hal penting apa nih yang mau dibicarakan?" Tanya Anto memulai percakapan
"Tiga hari yang lalu aku barusan pulang dari rumah Tok, aku diminta pulang sama ibuku"
"Trus?" Tanya Anto
"Ibuku bilang dia mau menjodohkan aku dengan anak temennya Rudi seorang Dokter lulusan UI, kemarin aku bertemu anaknya dan dia sudah berniat buat melamarku Tok"

"Blaarrrr" Hari itu masih musim kemarau tapi petir seakan-akan menyambar dengan kuat ketika Anto mendengar kalimat itu.
"Kamu..., Kamu ini lagi bercandakan Rat? Kamu gak cerita tentang hubungan kita dengan ibumu?"
"Udah!... Udah! Tok, justru karena itu aku pengin ngomongin ini sama kamu Tok. Ibu minta kamu buat datang ke rumah Tok, kalau kamu serius sama aku"
"Tapi, tapi itu gak mungkin Rat, kamu tahu sendiri gajiku sendiri masih seberapa, aku masih harus nabung Rat"
"Ibuku gak mempermasalahkan itu Tok."
"Tapi..." kata-kata Anto terpotong
" Sabtu malam minggu depan kedua orang tuaku mau datang ke Surabaya bersama mas Rudi untuk menanyakan jawabanku atas lamarannya"
"Begitu ya, ya aku paham kok" kata Anto sambil menghela nafas
"Tapi, aku belum bisa memberi kepastian sekarang Rat, Sabtu pagi ya, sekitar jam segini? minggu depan kita ketemu lagi di sini ya?" Tanya Anto pada Ratna
"Hmm" Ratna mengangguk pelan

Jam di dinding kafe menunjukkan pukul 11.15 sudah satu jam lebih berlalu dari waktu yang dijanjikan tapi Ratna belum juga muncul, jari tangan Anto merogoh saku celananya mencoba meraba kotak cincin yang dibelinya kemarin di Jakarta dengan seluruh uang tabungannya. Sebuah pikiran buruk kini menghantuinya, ketika Ratna tidak kunjung datang ke kafe itu, mungkinkah dia ingkar janji, dan lebih memilih laki-laki itu. Selama ini Ratna memang tidak pernah mempermasalahkan pekerjaannya sebagai guru honorer dengan gaji yang tidak seberapa itu, dan itu membuat Anto tenang, tapi jujur saja saat Anto sendiri merasa minder ketika dia harus dibandingkan dengan seorang Dokter lulusan UI.

Lamunan Anto tiba-tiba buyar ketika mendadak semua orang di dalam kafe tiba-tiba keluar kafe dengan tergesa-gesa. Anto pun berdiri mengikuti kemana orang-orang itu pergi.
"Ada apa pak?" tanya Anto kepada seorang pengunjung kafe yang juga ikut keluar
"Ada kecelakaan mas di depan kafe" jawab pengunjung itu
Anto pun bergegas ikut mendatangi lokasi kejadian

"Iya, ketabrak truk tadi, rem blong kayaknya truknya"
samar-samar Anto mendengar percakapan dari saksi mata yang melihat kejadian langsung
"Iya dia tadi mau nyebrang jalan, tahu-tahu ada truk nyelonong aja. Kasihan pak yang jadi  korbannya wanita muda, cantik lagi" saksi mata itu melanjutkan keterangannya kepada polisi yang menanyainya

Perasaan Anto seketika berubah kacau mendengar keterangan dari saksi mata tadi. "Jangan-jangan" pikiran buruk kini menyeruak di kepala Anto, lebih buruk daripada sebelumnya. Anto segera bergegas menembus kerumunan orang yang ingin melihat dari tempat kejadian perkara. "Semoga bukan, semoga bukan, semoga bukan" kata Anto dalam hati berdoa semoga bukan Ratna yang menjadi korban itu.

Sebuah kelegaan muncul ketika Anto berhasil menembus kerumunan dan doa Anto terkabul. Wanita yang terkapar tak bernyawa di jalan itu memang bukan Ratna, namun kelegaan itu hanya sementara. Sedetik kemudian mata Anto menatap sesosok perempuan yang dikenalinya berdiri diantara kerumunan orang itu.
"Rat..." suara Anto tercekat di tenggorokan ketika dia menyadari tangan Ratna menggenggam erat tangan seorang laki-laki tampan yang berpakaian necis di sebelahnya. Sesaat kemudian mata mereka beradu, Ratna tampak terkejut ketika dia melihat Anto disana. cukup lama bertatapan satu sama lain, sebelum kemudian Ratna mengangguk dan tersenyum kepada Anto lalu berpaling dan mengajak laki-laki berpakaian necis itu pergi meninggalkan Anto tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Langkah Anto terlihat gontai ketika dia berjalan masuk kembali ke kafe. Tidak pernah terbayang sedikit pun dalam benak bahwa dia akan melihat Ratna menggenggam tangan laki-laki lain selain dirinya. Tidak pernah terbayang juga di diri Anto bahwa Ratna bisa melakukan perbuatan ini padanya. Wajahnya kini kosong menatap kopi hitam yang tersisa setengah di depannya. sesaat kemudian Anto lalu melambaikan tangannya kepada pelayan kafe.
"Ya, mas, mau pesen apalagi?" Tanya pelayan kafe itu
"Oh! Nggak, mas. Mau minta billnya" Jawab Anto sambil berusaha untuk tersenyum
"Ouwh! Temennya gak jadi datang mas?"
"Iya mas" jawab Anto singkat
"Hmm..." Pelayan itu bergumam pelan
"Emang kenapa mas?" Tanya Anto
"Oh! Gak pa pa mas, cuma kayak De Javu aja. Kemarin seinget saya juga ada pelanggan yang pesen minuman yang persis sama kayak ini, katanya dia juga lagi nungguin seseorang, cuma orang yang ditunggu sampai sore gak muncul-muncul. Kasihan mas, apalagi yang nunggu cewek"
"Kemarin?" Tanya Anto keheranan.
"Emang sekarang hari apa mas?"
"Sekarang hari Minggu mas, 26 April 1992"

- The End -

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com